Feb 08

Implementasi Pendidikan Akhlak Mulia

 IMG_1665

Akhir-akhir ini orang semakin  menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter atau juga dalam  Islam disebut dengan istilah pendidikan akhlak mulia. Tidak ada yang bersilang pendapat soal itu. Semuanya menganggap penting. Bahkan   yang selalu muncul adalah sama-sama saling memperkuat pernyataan itu. Mereka mengatakan  bahwa,  kecerdasan intelektual tanpa diikuti oleh karakter atau akhlak yang mulia maka tidak akan ada gunanya. Dengan demikian sebenarnya, karakter atau akhlak adalah sesuatu yang sangat mendasar. Masyarakat yang tidak berkarakter atau berakhlak mulia  maka disebut sebagai  tidak beradab dan tidak memiliki harga atau nilai sama sekali. Oleh karena itu, maka aspek tersebut dipandang sangat penting. Karakter atau akhlak mulia itu harus dibangun. Sedangkan membangun akhlak mulia adalah melalui pendidikan, baik pendidikan di rumah, di sekolah,  maupun di masyarakat. Pendidikan akhlak mulia di rumah atau di masyarakat berjalan lewat kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kualitasnya tidak bisa diukur dan dikontrol, semuanya tergantung pada keluarga dan masyarakat yang bersangkutan.   Pendidikan yang relatif bisa dikontrol dan dirancang adalah lewat sekolah. Hanya persoalannya adalah bagaimana merancang pendidikan karakter dan akhlak mulia yang dilakukan melalui sekolah itu. Biasanya cara berpikir para ahli pendidikan  adalah lewat kurikulum. Sedangkan tatkala berbicara kurikulum, maka yang terpikir adalah tentang materi atau bahan ajar,  cara mengajarkan, peralatan yang digunakan,  dan juga bagaimana mengevaluasinya. Dengan gambaran seperti itu, maka pendidikan akhlak mulia akan berwujud seperti mata pelajaran lain pada umumnya. Para siswa diberi bahan pelajaran oleh guru, disuruh memperhatikan, mendengarkan,  dan  bahkan juga menghafalkan.  Cara seperti ini sebenarnya sudah banyak dikiritik orang, oleh karena hanya mengedepankan aspek kognitif belaka dan dianggap tidak berhasil.  Sedangkan aspek lainnya,  seperti aspek afektif dan psikomotorik kurang mendapatkan perhatian. Pendidikan akhlak mulia akhirnya hanya menjadi bersifat teoritik yang tidak banyak menghasilkan perilaku yang diharapkan. Terkait dengan pendidikan akhlak mulia ini, KH  Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah dikritik oleh santrinya sendiri. Bahwa pelajaran surat al Maun yang diulang-ulang justru membosankan. Atas dasar kritik itu, KH Ahmad Dahlan berani mengubah strategi pendidikannya, yaitu dengan cara mengajak para santrinya,  dengan membawa barang-barang yang berharga,  mendatangi fakir miskin dan memberikan barang-barang yang dibawanya itu.  Pelajaran seperti itu justru memberi kesan dan mampu membangun  watak, karakter atau akhlak mulia para santrinya.

 Oleh karena itu pendidikan karakter, watak,  atau akhlak mulia, bukan sekedar  dilakukan dengan mendasarkan  pada kurikulum dan atau bahan ajar yang diterangkan kepada para siswa di muka kelas,  melainkan seharusnya justru dibangun  lewat kegiatan nyata sehari-hari. Membangun kebiasaan atau  budaya yang membanggambarkan adanya akhlak mulia adalah justru lebih penting dari sekedar dilakukan dengan cara menerangkan mata pelajaran tentang hal itu  di depan para siswa.

 Kebiasaan atau budaya yang seharusnya dikembangkan di lembaga pendidikan itu misalnya berupa kegiatan shalat berjama’ah secara istiqomah di sekolah, saling menghargai dan menghormati di antara sesama guru, antara guru dengan murid, dan juga dengan pimpinan. Suasana kasih sayang di antara warga lembaga pendidikan benar-benar berusaha untuk  diwujudkan. Secara lebih kongkrit lagi misalnya, setiap ketemu di antara mereka selalu mengucapkan salam dan diciptakan suasana hangat. Pertemuan dengan siapa saja,—-di antara warga lembaga pendidikan itu,  menggambarkan suasana saling menghargai dan mencintai. Kebutuhan orang lain lebih diutamakan dari kepentingan dirinya sendiri.

 Contoh lainnya lagi, tatkala ada teman yang mendapatkan keberuntungan maka yang lain selalu ikut merasakan kebahagiaan, dengan memberikan apreasiasi.  Begitu pula sebaliknya, tatkala di antara sesama warga sekolah atau kampus mendapatkan musibah atau kesedihan, maka semua saja berusaha ikut menunjukkan empati. Perasaan bersama, saling menghormati, dan mencintai selalu ditunjukkan oleh semuanya tanpa terkecuali. Itulah gambaran sederhana tentang kebiasaan atau budaya berakhlak mulia yang bisa dikembangkan di lembaga pendidikan secara nyata.    

 Oleh karena itu,  kegiatan   yang justru membuahkan jarak hubungan antar sesama,  bahkan merusak  kekeluargaan mestinya dikurangi dan bahkan dihilangkan. Biasanya hal yang merusak itu terkait dengan jabatan dan juga pendapatan. Rupanya memang,  dua hal itulah yang paling nyata menjadi sebab banyak orang kehilangan karakter atau akhlak mulia. Namun sayangnya, hal itu masih selalu  dilakukan tanpa memperhatikan akibat buruknya. Padahal   implementasi pendidikan akhlak mulia dengan keadaan seperti itu akan  terganggu, atau bahkan tidak berjalan.  Wallahu a’lam.